Jangan Berbohong

oleh -675 views
oleh
Foto : Jangan Berbohong (Ilustrasi
banner 750x250

SATYA BHAKTI ONLINE | DELI SERDANG

Sekecil apapun itu, kebohongan dapat menghancurkan yang besar.

Karena itu, jangan berbohong, walaupun sekecil apapun.

Dalam hal ini, sekecil apapun kesalahan atau kekurangan yang kita lakukan itu, kita harus jujur terus terang dan jangan memulai berbohong.

Dengan memulai berbohong, maka akan terjadi lagi kebohongan lainnya yang dalam hal ini untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Foto : Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH

Demikian terungkap dalam pembicaraan rileks Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH kepada Satya Bhakti Online, baru-baru ini di ruang kerjanya, Jalan Medan-Tanjung Morawa, KM. 12,8, Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Terkait peristiwa kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J beberapa waktu lalu yang diketahui sarat rekayasa dengan cerita-cerita bohong itu, alumni Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1991 yang kini sudah purnawirawan itu menegaskan, beruntung peristiwa kematian Brigadir J yang sarat rekayasa dengan cerita-cerita bohong itu, dapat terungkap.

“Sangat disesalkan, ternyata salah seorang pimpinan Polri diduga merupakan dalang dari cerita bohong dibalik peristiwa kematian Brigadir J tersebut,” ungkap Purnawirawan Polisi Alumni Akpol 1984 itu.

“Sangat disesalkan lagi, kebohongan itu dilakukan secara bersama-sama yang dalam hal ini beberapa  personil berpangkat  Tamtama, Bintara dan Perwira  yang dalam hal ini Perwira Pertama (Pama), Perwira Menenggah (Pamen) dan Perwira Tinggi (Pati) juga diduga terlibat dalam cerita bohong dibalik peristiwa kematian Brigadir J tersebut,” ungkap Purnawirawan Polisi yang pernah menjabat Kabagrenmin Div TI  Mabes Polri serta sebagai Pimpinan Pembuatan master Plan IT Polri itu.

Foto : Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH

Menurut Purnawirawan Polisi kelahiran 23 Oktober 1961 di Medan itu, menipu, berbohong, berdusta dan tidak jujur, semua kata-kata tersebut merujuk pada satu pengertian yaitu melakukan atau mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan hal atau keadaan yang sebenarnya terjadi dengan kesengajaan.

“Bohong merupakan perkara yang berbahaya dan keburukan yang mudah menular dan menurun,” tegas alumni peserta pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Pol) pada 1999 yang kini sudah Purnawirawan Polisi itu.

Dalam hal ini, Purnawirawan Polisi yang diketahui alumni peserta pendidikan di Dikbang Sespim LAN pada 2013 itu menuturkan, satu kebaikan akan diikiuti oleh kebaikan-kebaikan lainnya.

Begitu juga kejahatan, Purnawirawan Polisi yang memiliki segudang’ pengalaman dan jabatan saat bertugas di Kepolisian itu menuturkan, satu kejahatan akan diikuti kejahatan berikutnya.

“Na’uzubillah…” ungkap Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH.

Foto : Kenangan manis Faisal Abdul Naser (kanan),saat bersma Irjen Pol Drs Adityawarman, SH, MH (kiri).

Terkait kepemimpinan seorang Pimpinan Polri, Purnawirawan Polisi yang mendapat tanda jasa seperti, Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun dan Satya Lencana Bhayangkara Nararya itu mengungkapkan dirinya mempunyai kenangan manis saat bersama Irjen Pol Drs Adityawarman, SH, MH yang saat itu sekira 2009 hingga 2010 lalu menjabat Kapolda Aceh.

Foto : Kenangan manis Faisal Abdul Naser (kanan),saat bersma Irjen Pol Drs Adityawarman, SH, MH (kiri).

Kenangan indah itu pun, ungkap Purnawirawan Polisi yang memiliki segudang’ pengalaman dan jabatan saat bertugas di Kepolisian itu, dituliskannya (Faisal Abdul Naser, red) dalam bentuk buku dengan judul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman.

Foto : Buku catatan harian Faisal Abdul Naser

Adapun isi buku yang dituliskannya itu, Purnawirawan Polisi yang juga pernah menjabat Kepala BNN Propinsi Aceh itu mengungkapkan, buku yang berjudul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman tersebut berisikan dan merupakan catatan harian dirinya (Faisal Abdul Naser, red) yang saat itu berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) bersama Irjen Pol Drs Adityawarman SH MH yang saat itu sekira 2009 hingga 2010 menjabat Kapolda Aceh.

Dalam hal ini, selama kebersamaannya dengan Irjen Pol Drs Adityawarman SH MH yang saat itu menjabat Kapolda Aceh sekira 2009 hingga 2010 itu, Faisal Abdul Naser mengaku,  Irjen Pol. Adityawarman merupakan sosok pemimpin yang bersahaja, berwibawa, tegas dan lugas.

Hebatnya lagi, dalam melaksanakan tugasnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) sebagai pimpinan di kepolisian, Faisal Abdul Naser mengungkapkan, Irjen Pol. Adityawarman menerapkan dan “membangun” misi kejujuran kepada para personil yang dipimpinnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) dan selalu mengingatkan para personil yang dipimpinnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) untuk tidak berbohong di segala hal.

Adapun pada halaman 75 hingga 77, tertulis dengan judul, “JANGAN BERBOHONG” di buku catatan harian Faisal Abdul Naser yang berjudul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman tersebut, diketahui, Pak Adit (panggilan akrab Irjen Pol. Adityawarman, red) sangat tidak suka kepada para personil yang dipimpinnya itu, berbohong dalam laporan dan pelaksanaan tugas, termasuk rencana pekerjaan yang akan dikerjakan.

 Dalam hal ini, Pak Adit tidak ingin pekerjaan itu dikerjakan dengan cara berbohong atau mengakal-akali atau dengan cara-cara di luar aturan yang kesemuanya itu agar pekerjaan itu dikatakan benar, lancar dan hebat.

 Dalam menjalani kehidupan dan menjalani tugasnya sebagai personil dan pimpinan, Pak Adit menerapkan suatu prinsip, “Tidak membudayakan sikap bohong”, baik kepada atas atasan, anggota, teman atau kepada orang lain.

 Pak Adit menilai, berbohong itu secara tidak langsung, juga telah membohongi diri sendiri.

 Dalam hal ini, banyak cara Pak Adit untuk mengetahui apakah laporan itu benar atau tidak yang salah satunya dengan cara mengumpulkan dan mencari data dari berbagai sumber.

 Apabila data-data yang dicari dan dikumpulkan itu telah valid, akurat dan tidak dapat di bantah, selanjutnya Pak Adit memanggil orang yang bersangkutan untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.

Jika orang yang bersangkutan itu bertahan dengan kebohongannya itu, Pak Adit memberikan fakta- fakta yang telah disembunyikan oleh orang tersebut yang hasilnya orang yang bersangkutan itu akan “skak mat” alias “mati kutu”.”

Dari buku catatan harian Faisal Abdul Naser berjudul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman yang tertulis pada halaman 75 hingga 77, tertulis dengan judul, “JANGAN BERBOHONG” tersebut, diketahui bahwa sampai di titik manapun, kebohongan adalah hal yang harus kita hindari sedini mungkin.

Apabila sebuah pekerjaan dimulai dengan kebohongan, maka untuk seterusnya, kebohongan itu akan selalu melekat pada seluruh peristiwa tersebut.

Dalam hal ini, jika masyarakat sudah dibohongi dan peristiwa kebohongan itu tidak terungkap, maka masyarakat tidak akan percaya lagi.

Dalam hal ini, jika suatu institusi “hancur” dikarenakan kebohongan, maka kepercayaan kepada institusi tersebut akan susah terbagun kembali dengan kata.

Karena itu, kepercayaan masyarakat harus diambil, dibangun dan dipertahankan.

“Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan yang penuh dusta dan tipu muslihat ini. Amin,” tutur Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH mengakhiri pembicaraan rileksnya kepada Satya Bhakti Online itu.

Foto : Kenangan saat Faisal Abdul Naser menjabat Kepala BNN Propinsi Aceh

Sementara itu, beberapa personil polisi yang pernah dipimpin Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH saat aktif bertugas di Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) dengan jabatan Kasat Reserse Poltabes Medan, Wakapolres Tanah Karo, Wakapolres  Deli Serdang itu, dirinya (Faisal Abdul Naser, red) mengungkapkan banyak karya dan kepimimpinan yang patut diteladani dari Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH.

Sedangkan saat aktif dangan jabatan Kepala BNN Propinsi Aceh, salah seorang warga bernama Yaqin mengungkapkan, keberanian Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH saat aktif bertugas dengan jabatan Kepala BNN Propinsi Aceh juga patut menjadi teladan bagi para pimpinan Kepala BNN Propinsi Aceh lainnya.

Menurut Yaqin, dalam waktu 1 tahun lamanya, Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH saat aktif bertugas dengan jabatan Kepala BNN Propinsi Aceh telah menjerat 30 tersangka atas kasus narkoba dengan hukuman mati.

Hal tersebut, ungkap Yaqin, merupakan sejarah Institusi BNN Propinsi Aceh dalam proses hukum atas kasus pemberantas narkotika.

Menariknya, selain menjerat 30 tersangka atas kasus narkoba dengan hukuman mati itu, Faisal Abdul Naser saat aktif bertugas di kepolisian itu juga menaruh karya yang salah satunya puisi.

Tidak hanya itu saja, kebanggaan lain yang patut diteladani bagi para Purnawirawan Polisi lainnya, walaupun tidak lagi aktif bertugas di kepolisian, Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH yang kini berkarya dengan jabatan Executif Liasion Officer di PT. Indojaya Agri Nusa (IJA)/PT. Japfa Comfeed Indonesia (JCI), Tbk-Sumatera dapat berkoordinasi dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menanam investasi di Batam guna memperluas wilayah kerja perusahaan PT.IJA/JCI, Tbk – Sumatera.

Selain itu, bersama TIM Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di PT. IJA/PT JCI, Tbk-Sumatera, Purnawirawan Polisi yang kini berkarya dan juga dipercaya menjabat Ketua Satgas Covid di PT. IJA/PT JCI, Tbk-Sumatera itu juga dinilai berhasil menekan bahkan sukses dalam melaksanakan tugasnya mensukseskan pelaksanaan Program Pemerintah  untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Covid-19, khususnya di lingkungan kerja perusahaan PT.IJA/JCI, Tbk – Sumatera.

Selain sukses dalam melaksanakan tugasnya untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Covid-19,  Tim Satgas Covid di PT. IJA/PT JCI, Tbk-Sumatera dibawah kepemimpinan Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH juga dinilai berhasil bahkan sukses turut serta mensukseskan pelaksananan Program Pemerintah yakni Program Vaksinasi Massal khususnya di lingkungan dan disekitar wilayah kerja PT.IJA/JCI, Tbk – Sumatera. (****)

Penulis : Antonius Sitanggang

Editor/Publish : Antonius Sitanggang

Renungan :

“Aku Tidak Bisa”, adalah pepatah yang menyedihkan didalam bahasa apapun.”

banner 750x250
Bagikan ke :