Sementara itu, di sela-sela halal bihalal itu, kepada awak media ini, Pembina wadah “Buser Jadul”, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH mengungkapkan, inti halal bihalal ialah silaturahim yang dalam hal ini merupakan wujus dari kata “silah” yang berarti konek.
Dengan mengibaratkan sebuah rangkain listrik, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH menuturkan, jika negatif dan positifnya putus, maka listrik tersebut akan padam.
“Lampu, internet, dan lainnya juga turut mati,” tegas purnawiran polisi berpangkat Brigjen itu.
Tapi, lanjut Pembina “Buser Jadul” itu, jika kita terkonek, maka sudah barang tentu semuanya akan hidup.
“Jadi, dua istilah halal dengan yang pertama ialah ‘silah’ yang bermakna selalu positif. Lalu kedua, ‘rahim’,” ungkap Pembina “Buser Jadul” itu.

Dalam hal ini, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH mengungkapkan, ada sebuah hadits Nabi mengatakan, jika Al-Qur’an 30 juz dipadatkan, maka pemadatannya ialah Surah Al-Fatihah.
“Dan jika Surah Al-Fatihah dipadatkan lagi, pemadatannya ialah ‘Bismillahirrahmanirrahim’ pada Surah Fatihah tersebut,” tutur Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH.
Kemudian, tutur Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH lagi, jika dipadatkan lagi, maka intinya terletak pada dua kata yang disebut ummu sifat, ummul asma, di mana terdapat 99 nama Allah yang menjadi induknya, ialah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang artinya Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan mempunyai akar kata sama; yaitu rahima, yang berarti cinta,” tutur Pembina “Buser Jadul” itu.
Jika Al-Qur’an dipadatkan menjadi satu kata, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH menuturkan, maka kata itu adalah cinta atau kasih.
Dengan demikian, Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH menyimpulkan, silaturahim ialah menjalin cinta yang sangat suci.
Hal inilah, menurut Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH yang harus dilakukan, terlebih dalam halal bihalal digital sebagaimana dilakukan pada hari tersebut.
Brigjen Pol. (Purn) Drs. Faisal AN, MH berharap, hal ini bisa menjadi simbol kebersamaan.
“Kita ingin sekali agar halal bihalal ini menjadi satu hal yang sangat perekat untuk bangsa Indonesia yang majemuk,” harapnya.
“Simbol pemersatu seperti halal bihalal tersebut, sangat penting. Jangan dianggap hanya milik umat Islam saja, sekalipun namanya bahasa Arab. Halal bihalal ini merupakan karya anak bangsa yang kesemuanya itu sudah ada sejak awal untuk menghimpun umat beragama, untuk etnik yang berbeda-beda,” pungkas purnawiran polisi berpangkat Brigjen itu. (red)
Editor/Publish : Antonius Sitanggang














