SATYA BHAKTI ONLINE | DELI SERDANG
Sekecil apapun itu, kebohongan dapat menghancurkan yang besar.
Karena itu, jangan berbohong, walaupun sekecil apapun.
Dalam hal ini, sekecil apapun kesalahan atau kekurangan yang kita lakukan itu, kita harus jujur terus terang dan jangan memulai berbohong.
Dengan memulai berbohong, maka akan terjadi lagi kebohongan lainnya yang dalam hal ini untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Demikian terungkap dalam pembicaraan rileks Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH kepada Satya Bhakti Online, baru-baru ini di ruang kerjanya, Jalan Medan-Tanjung Morawa, KM. 12,8, Desa Bangun Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Terkait peristiwa kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J beberapa waktu lalu yang diketahui sarat rekayasa dengan cerita-cerita bohong itu, alumni Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1991 yang kini sudah purnawirawan itu menegaskan, beruntung peristiwa kematian Brigadir J yang sarat rekayasa dengan cerita-cerita bohong itu, dapat terungkap.
“Sangat disesalkan, ternyata salah seorang pimpinan Polri diduga merupakan dalang dari cerita bohong dibalik peristiwa kematian Brigadir J tersebut,” ungkap Purnawirawan Polisi Alumni Akpol 1984 itu.
“Sangat disesalkan lagi, kebohongan itu dilakukan secara bersama-sama yang dalam hal ini beberapa personil berpangkat Tamtama, Bintara dan Perwira yang dalam hal ini Perwira Pertama (Pama), Perwira Menenggah (Pamen) dan Perwira Tinggi (Pati) juga diduga terlibat dalam cerita bohong dibalik peristiwa kematian Brigadir J tersebut,” ungkap Purnawirawan Polisi yang pernah menjabat Kabagrenmin Div TI Mabes Polri serta sebagai Pimpinan Pembuatan master Plan IT Polri itu.

Menurut Purnawirawan Polisi kelahiran 23 Oktober 1961 di Medan itu, menipu, berbohong, berdusta dan tidak jujur, semua kata-kata tersebut merujuk pada satu pengertian yaitu melakukan atau mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan hal atau keadaan yang sebenarnya terjadi dengan kesengajaan.
“Bohong merupakan perkara yang berbahaya dan keburukan yang mudah menular dan menurun,” tegas alumni peserta pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Pol) pada 1999 yang kini sudah Purnawirawan Polisi itu.
Dalam hal ini, Purnawirawan Polisi yang diketahui alumni peserta pendidikan di Dikbang Sespim LAN pada 2013 itu menuturkan, satu kebaikan akan diikiuti oleh kebaikan-kebaikan lainnya.
Begitu juga kejahatan, Purnawirawan Polisi yang memiliki segudang’ pengalaman dan jabatan saat bertugas di Kepolisian itu menuturkan, satu kejahatan akan diikuti kejahatan berikutnya.
“Na’uzubillah…” ungkap Brigjen. Pol. (Purn) Adv. Drs. Faisal Abdul Naser, MH.

Terkait kepemimpinan seorang Pimpinan Polri, Purnawirawan Polisi yang mendapat tanda jasa seperti, Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun dan Satya Lencana Bhayangkara Nararya itu mengungkapkan dirinya mempunyai kenangan manis saat bersama Irjen Pol Drs Adityawarman, SH, MH yang saat itu sekira 2009 hingga 2010 lalu menjabat Kapolda Aceh.

Kenangan indah itu pun, ungkap Purnawirawan Polisi yang memiliki segudang’ pengalaman dan jabatan saat bertugas di Kepolisian itu, dituliskannya (Faisal Abdul Naser, red) dalam bentuk buku dengan judul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman.

Adapun isi buku yang dituliskannya itu, Purnawirawan Polisi yang juga pernah menjabat Kepala BNN Propinsi Aceh itu mengungkapkan, buku yang berjudul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman tersebut berisikan dan merupakan catatan harian dirinya (Faisal Abdul Naser, red) yang saat itu berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) bersama Irjen Pol Drs Adityawarman SH MH yang saat itu sekira 2009 hingga 2010 menjabat Kapolda Aceh.
Dalam hal ini, selama kebersamaannya dengan Irjen Pol Drs Adityawarman SH MH yang saat itu menjabat Kapolda Aceh sekira 2009 hingga 2010 itu, Faisal Abdul Naser mengaku, Irjen Pol. Adityawarman merupakan sosok pemimpin yang bersahaja, berwibawa, tegas dan lugas.
Hebatnya lagi, dalam melaksanakan tugasnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) sebagai pimpinan di kepolisian, Faisal Abdul Naser mengungkapkan, Irjen Pol. Adityawarman menerapkan dan “membangun” misi kejujuran kepada para personil yang dipimpinnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) dan selalu mengingatkan para personil yang dipimpinnya (Irjen Pol. Adityawarman, red) untuk tidak berbohong di segala hal.
Adapun pada halaman 75 hingga 77, tertulis dengan judul, “JANGAN BERBOHONG” di buku catatan harian Faisal Abdul Naser yang berjudul, “Kalau bersungguh-sungguh, Pasti Bisa!” Memimpin Ala Adityawarman tersebut, diketahui, “Pak Adit (panggilan akrab Irjen Pol. Adityawarman, red) sangat tidak suka kepada para personil yang dipimpinnya itu, berbohong dalam laporan dan pelaksanaan tugas, termasuk rencana pekerjaan yang akan dikerjakan.











