Herannya, ungkap pekerja SPA itu lagi, saat dirazia, kenapa hanya SPA “Riama” yang ditutup dan dipasang “police line” oleh Polres Asahan itu.
Selanjutnya, di tempat terpisah, seorang Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) meminta agar Polres Asahan tidak membuat kecewaan yang kesemuanya berdampak kepada tingkat kepercayaan dan kecintaan warga masyarakat Asahan kepada Polri, khususnya Polres Asahan.
Terkait razia ke tempat SPA itu, Pendeta GPdI yang diketahui bernama Pdt. Markus Sianipar, MTh itu menilai, dengan hanya menutup dan memasang “police line” 1 SPA dari sekian banyak SPA yang dirazia itu, Polres Asahan telah membuka ruang opini bagi warga masyarakat Asahan.
Untuk itu, kepada Kapolres Asahan, Pendeta GPdI yang dalam hal ini seorang anggota Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kabupaten Asahan meminta agar seluruh SPA yang ada di Asahan.
Dalam hal ini, Pendeta GPdI menilai, tidak menutup kemungkinan seluruh SPA yang ada itu, diduga hanya sebagai kedok untuk melakukan tindak pidana, khususnya penyakit masyakat.
Untuk itu, mengakhiri urainnya itu, kepada Kapolres Asahan, Pendeta GPdI itu kembali meminta agar memerintahkan seluruh personilnya untuk menutup seluruh SPA yang ada di Asahan. ***
Jurnalis : Agustua Panggabean
Editor/Publish : Antonius Sitanggang











