
Foto : Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumbar, Khairuddin Simanjuntak Harga Jual Hasil Tanam Turun Anjlok
Harga Pupuk Melambung Tinggi
SATYA BHAKTI OLINE – PASAMAN (SUMBAR) |
Hingga kini, petani khususnya di Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) masih menjerit soal anjloknya harga hasil pertanian dan melambungnya harga pupuk yang kesemuanya itu dikhawatirkan petani di Pasaman akan gulung tikar alias bangkrut.
Menanggapi itu, Khairuddin Simanjuntak, seorang anggota DPRD Provinsi Sumbar, “angkat bicara”.

Saat itu, Senin 22 Agustus 2022 kepada wartawan SATYA BHAKTI ONLINE melalui pesan singkat, Khairuddin Simanjuntak yang “duduk” di Komisi IV DPRD Provinsi Sumbar yang membidangi Pembangunan dan Badan Anggaran itu mengaku anjloknya harga jual hasil pertanian dan melambungnya harga beli pupuk membuat kita (DPRD Sumbar, red) prihatin.
Sedangkan harga-harga kebutuhan masyarakat di luar komoditi pertanian, tutur anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumbar itu, melonjak naik yang kesemuanya itu nantinya dikhawatirkan akan menimbulkan terjadinya inflasi yang salahsatunya dikarenakan harga-harga pertanian yang anjlok ini berbanding terbalik dengan harga harga pupuk non subsidi yang menaik tajam.
Ironisnya, ungkap anggota DPRD Sumbar dari Daerah Pemilihan(Dapil) Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat itu, obat-obatan (peptisida) dan pupuk subsidi sangat langka ditemui para petani.
Untuk itu, kepada pihak pihak yang berkompeten, anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumbar itu mengharapkan agar kiranya dapat menstabilkan kembali harga hasil pertanian para petani sebagaimana saat waktu sebelumnya.
Terkait langkanya pupuk bersubsidi dan peptisida, kepada pemerintah, anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumbar meminta agar menstabilkan kembali harga beli dan ketersediaan pupuk bersubsidi dan peptisida sebagimana waktu sebelumnya.
Apabila pupuk bersubsidi dari pemerintah susah didapatkan, Khairuddin Simanjuntak menilai pedagang pupuk non-subsidi akan membuat harga sesuka hati, karena mereka (pedagang pupuk non-subsidi, red) menganggap mau tidak mau para petani tetap akan membeli juga walaupun harganya mahal.
Sebaliknya, ungkap Khairuddin Simanjuntak, apabila pupuk subsidi dari pemerintah masih ada dan tidak langka, maka pedagang pupuk non subsidi tidak bisa sesuka hatinya membuat harga.
Sementara itu, seorang petani yang mengaku bernama Janten (50) warga Jongkong mengaku sangat menjerit dengan mahalnya harga beli pupuk non-subsidi dan anjloknya harga jual hasil pertanian.
Terkait ketersediaan pupuk subsidi dari pemerintah, Janten mengaku masih ada, tapi agak langka.











