Terkait peran terminal khususnya di Kota Medan yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya, Handoko mengakui, selama ini masyarakat Kota Medan dan sekitarnya merasa enggan memasuki terminal apabila hendak bepergian menggunakan bus umum.
Semuanya, ungkap Handoko, dikarenakan terminal dianggap kumuh, kotor dan bau.
Selain itu, ungkap Tokoh Pemuda Sumut itu lagi, keberadaan preman dan calo juga membuat masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak-anak, takut menginjakkan kakinya di terminal yang kesemunya itu membuat masyarakat selaku penumpang lebih memilih menunggu bus di luar terminal.
Keadaan ini, ungkap Tokoh Pemuda Sumut itu, sangat merugikan bagi semua pihak yang dalam hal ini masyarakat tidak merasakan kenyamanan dan pendapatan negara juga berkurang serta para sopir dan pengusaha angkutan juga tidak mendapatkan pemasukan yang maksimal.
Untuk menghilangkan kesan bahwa Kota Medan dan daerah lainnya di Sumut sebagai wilayah semrawut dan dikuasai oleh para preman, Handoko menegaskan, terminal merupakan salah satu tolok ukur tertib dan disiplinnya warga sebuah kota.
“Dengan menjadikan Terminal Amplas dan terminal lainnya sebagai tempat yang indah dan nyaman, kita yakin tempat-tempat umum lainnya akan mengikut menjadi lebih baik dan layak. Otomatis warga kota terbiasa dengan keindahan dan kenyamanan,” pungkas Handoko sembari mengucapkan “Selamat Hari Pers Nasional 2023”, Semoga Pers Bebas Demokrasi Bermartabat. (Red)
Editor/Publish : Antonius Sitanggang














