Menurut warga, jebolnya tanggul telah menyebabkan air sungai meluap ke sawah dan kebun milik masyarakat, sehingga mengancam mata pencaharian mereka.
Selain itu, beberapa rumah yang berada di bantaran sungai juga berada dalam kondisi rawan.
Salah seorang tokoh masyarakat, berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan perbaikan permanen.
“Kami hanya mampu melakukan perbaikan darurat. Untuk jangka panjang, kami sangat berharap ada pembangunan tanggul yang lebih kuat agar kejadian ini tidak terulang,” katanya.
Warga juga meminta agar instansi terkait, seperti BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum, segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk menilai tingkat kerusakan serta menyiapkan langkah penanganan yang lebih menyeluruh.
Terkait itu, Nugroho Wicaksono, seorang aktivis yang ergabung dalam Pesaudaraan’98 Sumut menuturkan, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Desa Bonandolok menjadi bukti kuat bahwa kepedulian dan kebersamaan masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana.
“Namun, tanpa dukungan nyata dari pemerintah, ancaman banjir tetap menjadi momok yang menghantui warga di sepanjang aliran Sungai Batang Angkola,” pungkasnya. (red)
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
Renungan :
“Pemerintah harus menjaga kesejahteraan rakyatnya seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya.”













