Namun, pertanyaan publik tak bisa dihindari : “apakah operasi ini akan benar-benar menyentuh akar persoalan keselamatan, atau sekadar menjadi agenda tahunan yang berakhir tanpa perubahan signifikan?”
Operasi Rutin, Pelanggaran Tetap Tinggi
Setiap tahun, operasi serupa digelar dengan slogan keselamatan dan pendekatan humanis.
Tetapi di lapangan, pelanggaran masih masif, kecelakaan masih menelan korban, dan kesadaran masyarakat seolah tak bergerak ke arah yang lebih baik.
Ironisnya, operasi sering kali lebih tampak sebagai razia insidental ketimbang gerakan berkelanjutan yang menyentuh edukasi di tingkat akar rumput.
Tak jarang masyarakat mengeluhkan:
- Razia tanpa papan informasi jelas.
- Penindakan selektif.
- Minimnya ruang dialog di lokasi pemeriksaan
Jika kondisi ini terus berulang, maka istilah humanis hanya akan menjadi jargon kosong.
Terkait sasaran target, publik menuntut lebih dari sekadar daftar sasaran.
Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Apel
Keselamatan lalu lintas bukan soal tilang, tetapi soal kehadiran negara di ruang publik.
Jalan rusak, rambu minim, marka pudar, hingga lampu lalu lintas mati juga bagian dari penyebab kecelakaan yang jarang disentuh dalam operasi semacam ini.
Jika akar masalah tidak dibongkar, maka yang berubah hanya spanduk dan tema operasi, bukan realitas di jalanan.
Kini publik menunggu, “apakah Operasi Keselamatan Toba 2026 akan menjadi titik balik, atau sekadar rutinitas tanpa dampak?” (red)
Editor/Publish : Antonius Sitanggang
Renungan :
“Pemerintahan yang adil lebih kuat dari pasukan terbesar.”

















